Archive for the ‘SENI DAN BUDAYA’ Category

 

Jalan beraspal itu tidak begitu mulus, lebarnya sempit, hanya pas untuk satu kendaraan roda empat. Sepanjang tepi jalan mengikuti selokan tertata apik, meskipun tidak seperti proyek trotoar di perkotaan.

Air irigasi pertanian tradisional (subak) itu tampak jernih, mengalir lancar menyebar menggenangi sawah dan kolam ikan yang terbentang di hilir Banjar Ole, Desa Marga Dauh Puri, Kabupaten Tabanan, 27 km barat laut Kota Denpasar.

Jaringan jalan sempit membelah Subak Mole dan Subak Sengawang yang memiliki hamparan sawah lebih dari 90 hektare sepanjang hampir dua kilometer hasil pelebaran jalan setapak yang dilakukan secara gotong royong oleh anggota subak setempat.

Hasil pelebaran itu kemudian diaspal Pemerintah Kabupaten Tabanan, dengan harapan bisa menghubungkan jalan Makam Taman Pahlawan Pujaan Bangsa Margarana dengan objek wisata Alas Kedaton, tempat berkeliaran ratusan ekor kera dan kelelawar besar yang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung ke objek wisata tersebut.

Subak bersamaan dengan seni budaya Bali diperkenalkan kepada masyarakat dunia oleh peneliti mancanegara, yakni Miguel Covarrubias yang juga penulis, pelukis dan antropolog kelahiran Meksiko.

Warga negara asing itu pernah menetap di Bali dan menulis buku berjudul “Island of Bali” pada tahun 1930 atau 83 tahun yang silam,” tutur Ketua Pusat Penelitian Subak Universitas  Udayana, Prof Dr I Wayan Windia.

Buku tentang Bali Island (Pulau Bali) yang ditulis hampir seabad  yang lalu, isinya masih sangat relevan dan inspiratif bagi pembacanya.  Untunglah seniman Sunaryo Basuki Ks, guru besar Sastra Inggris di Universitas Pendidikan Genesha (Undiksa) menerjemahkan buku tersebut dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia.

Windia yang juga Ketua Badan Penjaminan Mutu Unud mengaku semakin tak percaya bahwa dalam menulis karangan  ilmiah, literaturnya harus yang serba baru, terbukti buku karangan Covarrubias, nyaris menjadi buku “bibble” bagi pencinta kebudayaan Bali.

“Sebagai pengamat subak, tentu saja saya berusaha mengkaji lebih mendalam isi buku yang ditulis Miguel Covarrubias yang berkaitan dengan eksistensi subak di Bali,” ujarnya.

Miguel Covarrubias  memiliki pandangan yang sangat tajam, deskripsi pendapatnya tentang tujuan dibentuknya sistem  subak, ternyata masih sangat relevan dengan tujuan-tujuan subak yang dideskripsikan oleh Coward maupun Prof Dr Nyoman Sutawan pada awal abad ke-21.

Subak dibentuk bertujuan untuk menjamin agar semua petani anggota subak tidak kekurangan air irigasi, dan melakukan kegiatan ritual sesuatu  yang khas dilakukan oleh anggota subak yang membedakannya dengan sistem irigasi lainnya di belahan  dunia.

Deskripsi Covarrubias itu, agak lama didangkalkan oleh berbagai peneliti tentang subak, sampai akhirnya Sutawan dkk, menegaskan kembali tentang fungsi ritual yang harus dilakukan subak.

Fungsi ritual itu kemudian dipertegas lagi oleh Suprodjo, Sigit dan Sahid yang kini diterapkan dalam kehidupan petani mulai dari pengolahan lahan, penanaman hingga panen selalu diwarnai dengan kegiatan ritual.

Pajak dalam subak
Miguel Covarrubias dalam melakukan penelitian dan pengkajian terhadap subak di Bali 83 tahun yang silam juga menyangkut substansi pajak yang harus dibayar para petani atas lahan sawah garapannya.

Kajian yang masih relevan dan terus dibicarakan hingga sekarang tentang pajak bagi petani yang kini dikenal dengan pajak bumi dan bangunan (PBB). Masalah pajak bagi petani sejak zaman kerajaan era awal abad ke-20 selalu dirasakan sangat memberatkan, menyakitkan dan mematikan petani.

Meskipun porsi pajak tanah (PBB) dalam proses biaya usaha tani dinilai belum begitu besar dan signifikan yakni sekitar sepuluh persen, namun pajak dirasakan berat bagi petani.

Oleh sebab itu petani harus menyediakan uang tunai pada hari H pemungutan pajak. Padahal kehidupan petani  nyaris tidak pernah memiliki uang cash yang cukup.

“Faktanya, para petani hidupnya memang hanya dari usaha tani, dan kemudian setelah musim panen, lalu dikonsumsi. Pengeluarannya yang lain setelah panen adalah untuk membayar hutang,  biaya pendidikan, biaya pengobatan, biaya upacara adat/agama,” tutur Prof Windia yang sering memimpin dosen dan mahasiswa melakukan penelitian subak di Bali.

Dengan demikian petani nyaris tidak memiliki uang cash sebagai simpanan. Lalu di mana mereka harus mencari uang cash pada saat mereka harus membayar pajak (PBB).

Oleh sebab itu pengenaan pajak (PBB) kepada petani sejak seabad yang lalu sangat menyulitkan kehidupan petani, nyaris membuat petani menjadi apatis.

Miguel Covarrubias dalam bukunya berjudul “Island of Bali”  menyebutkan bahwa tatkala tentara  Belanda mendarat di pantai Sanur pada tahun 1906 (untuk menyerang Denpasar), maka masyarakat di Sanur yang umumnya petani, bersikap acuh tak acuh saja.

Mereka berpikir bahwa, siapapun berkuasa, tokh mereka harus membayar pajak. Mereka beranggapan bahwa bergantinya penguasa hanya akan berganti tempat membayar pajak. Hanya itu, dan tidak ada yang beda. Mungkin karena faktor itulah, maka rakyat Sanur tidak serta merta melakukan perlawanan terhadap Belanda, sampai akhirnya pasukan Kerajaan Denpasar menyerang pasukan Belanda yang masih berada di Pantai Sanur.

Sementara itu Covarrubias menyebutkan alasan lain. Bahwa rakyat Sanur tidak bereaksi secara wajar, karena mereka didominasi oleh kaum “brahmana” yang mencintai perdamaian.

Namun apapun itu, fakta empiris sudah membuktikan bahwa telah terjadi Perang Puputan Badung yang dahsyat. Hal itu adalah fakta dari perlawanan rakyat dan Raja Denpasar, yang tidak sudi direndahkan oleh orang asing (Belanda).

Setelah satu abad berlalu, masalah pajak bagi petani masih terus terasa sangat memberatkan. Oleh Sebab itu Prof Windia dalam berbagai perbincangan dengan petani, sangat mendukung petani yang tidak mau membayar pajak PBB, karena dinilai sistemnya tidak adil.

Sistem pajak PBB yang dasarnya adalah lokasi sawah yakni nilai jual obyek pajak  (NJOP) adalah sistem pajak yang tidak adil. Hanya menguntungkan yang kaya (kapitalis), namun sangat mematikan kaum tani.

Sistem pajak PBB hanya mempermudah pekerjaan birokrat. Mereka dengan mudah dapat menyamaratakan nilai pajak dalam suatu subak tertentu, padahal nyatanya  di sana ada sawah, ada toko, hotel dan tukang sepeda dengan penghasilan yang sangat berbeda.

“Lalu kenapa nilai pajak PBB-nya harus sama? Mengapa kaum birokrat tidak mau agak payah sedikit, dengan mengadakan orientasi lapangan. Dengan demikian, pengenaan pajaknya dapat dibedakan,” ujar Prof Windia.

Sekarang, dengan telah diserahkannya pungutan pajak PBB kepada pemkab/pemkot, maka sistemnya harus ditata ulang. Dasar pajak PBB harus produksi lahan. Bukan lokasi lahan.

Ada kasus di sebuah subak di Denpasar barat seorang petani yang mempunyai lahan pertanian seluas 70 are (0,70 hektare) harus membayar pajak Rp40 juta setahun. Padahal petani itu hanya menanam padi dan sayur kangkung.

Lalu di mana harus mendapat uang untuk bayar pajak PBB sebesar itu? Apa itu berarti  bahwa pemerintah mendorong petani untuk menjual sawah guna membayar pajak PBB? Di mana  logikanya ? tanya Windia.

Jika demikian halnya, maka sejatinya pemerintahlah yang secara sistematis menghancurkan sistem sawah dan sistem subak di Bali. Padahal areal lahan sawah/subak yang terbentang luas, sangat penting atau bermanfaat  untuk  menghasilkan oksigen.

Selain itu menampung air yang berlebih  pada musim hujan, menawarkan pemandangan alam yang sejuk yang menjadi dambaan wisatawan dalam dan luar negeri.


Oleh I Ketut Sutika

Iklan

Selama ini orang hanya mengetahui Halloween salah satu acara memperingati kematian, bangkitnya para hantu, dan arwah. Biasanya warga dunia merayakannya dengan memakai kostum menyeramkan, namun seiring berkembangnya waktu menjadi unik dan tidak biasa seperti kostum robot atau tokoh kartun.

Ternyata merayakan kematian bukan milik Halloween saja. Di beberapa negara ada festival kematian diperingati saban tahun atau ada hal tertentu. Dilansir dari listverse.com, setidaknya ada lima parade untuk mengingat peristiwa berakhirnya hidup.

Seperti apa perayaan itu? Berikut ulasannya.

1. Famadihana, Madagascar

famadihana madagascar Inilah 5 Festival Perayaan Kematian di Dunia

Madagascar memang tidak mempunyai waktu khusus untuk memperingati sebuah kematian. Namun ada perayaan bernama Famadihana yakni membongkar sebuah makam. Jenazah dalam kuburan diangkat dan dikenakan kain sutera lalu diarak keliling pemakaman bersama musik pengiring.

Tradisi ini datang dari penganut keyakinan Malagasy. Para penganut keyakinan ini percaya ruh orang mati tidak dapat kembali ke alam baka sebelum tubuhnya menjadi busuk. Tiap tujuh tahun sekali, mayat diangkat, dibungkus ulang, lalu dimasukkan kembali ke liang lahat bersama pesta besar-besaran. Perayaan ini melibatkan keluarga si jenazah.

2. Festival hantu lapar, China

festival hantu lapar china Inilah 5 Festival Perayaan Kematian di Dunia

Festival hantu lapar dirayakan warga China setiap malam ke-15 bulan ketujuh dalam kalender China. Bulan ini dikenal dengan bulannya para setan dan dipercaya arwah, jin, hantu bangkit dari alam kubur.

Selama bulan itu, semua keluarga di China wajib mengosongkan satu kursi dalam meja makan atau di ruang keluarga untuk mengingat mereka telah tiada. Mereka juga membakar uang kertas selama festival berlangsung. Setelah perayaan berakhir, para warga China menuntun hantu kembali ke bawah tanah dengan menlarungkan lentera berbentuk bunga teratai di sungai atau danau.

3. Lemuria, Italia

lemuria italia Inilah 5 Festival Perayaan Kematian di Dunia

Lemuria merupakan tradisi Roma kuno untuk mengusir roh jahat nenek moyang dari sebuah rumah. Setiap tempat tinggal harus dibersihkan oleh kepala rumah tangga dengan bangun tengah malam dan membasuh tangannya tiga kali. Lalu berjalan-jalan tanpa alas kaki ke sekeliling rumah sambil melemparkan kacang hitam dari atas bahu sebanyak sembilan kali. Dia juga merapal mantra ‘jadikan kacang ini sebagai penebus bagi saya dan nenek moyang saya’.

Ritual ini masih banyak dilakukan orang-orang Italia hingga saat ini.

4. Hari Raya Kematian, Meksiko

hari raya kematian meksiko Inilah 5 Festival Perayaan Kematian di Dunia

Hari Raya Kematian di Meksiko diadakan tiap dua hari awal November dan ini sudah masuk dalam rangkaian libur di negara itu. Perayaan ditandai dengan patung-patung tengkorak berada di tempat umum se-antero negara itu.

Hari raya Kematian aslinya memperingati musim panen Suku Aztec, suku asli Meksiko. Sebulan penuh mereka merayakan persembahan untuk Dewi Mictecacihual, Dewi Kematian. Meski perayaannya dekat dengan Halloween namun peringatan ini lebih hangat. Banyak kegembiraan, nyanyian, dan dansa sepanjang malam.

5. Pitru Paksha, India

pitru paksha india Inilah 5 Festival Perayaan Kematian di Dunia

Festival Pitru Paksha merupakan tradisi Hindu di bulan Aswin dalam kalender agama itu. Perayaan berjalan selama dua minggu untuk memperingati ruh dan arwah nenek moyang serta pendahulu mereka.

Dalam mitologi Hindu saat arwah prajurit Karna mencapai surga, dia tidak menemukan apa-apa untuk dimakan selain emas. Karna memohon pada Batara Indra untuk diberikan makanan namun Indra menolak lantaran semasa hidup Karna tidak pernah memberikan makanan pada leluhurnya. Akhirnya, dia membuat kesepakatan dengan Indra agar diturunkan ke bumi selama dua minggu untuk memberikan air dan makanan pada semua orang.

Arkeolog asal Jerman dilaporkan telah menemukan puing-puing dipercaya bekas kerajaan Kristen di Yaman. Penemuan ini membuat para arkeolog berspekulasi setidaknya ada satu gereja di Kota Makkah, Arab Saudi.

Surat kabar the Daily Mail melaporkan,  arkeolog menemukan sebuah batu dengan pahatan seperti tokoh Kristen di Wilayah Zafar, sekitar 935 kilometer selatan Makkah. Batu ini diyakini para arkeolog berasal dari zaman Nabi Muhammad.

Arkeolog asal Kota Heidelberg, Jerman, Paul Yule, mengatakan batu ini mempunyai tinggi sekitar 1,5 meter. Dia memperkirakan pahatan itu dibuat pada 530 masehi.

Dia menjelaskan dalam pahatan batu itu digambarkan seorang lelaki memakai perhiasan, berambut keriting, bermata bulat, dan telanjang kaki. Dia percaya tokoh ini mirip dalam penggambaran orang suci dari Gereja Koptik.

Lelaki dalam pahatan itu juga terlihat memegang seikat ranting yang merupakan simbol perdamaian pada tangan kirinya dan palang seperti salib di tangan kanannya. Sementara mahkota dipakai pria itu mirip dengan apa dikenakan oleh penguasa-penguasa kerajaan Kristen Ethiopia kuno.

Yule percaya pahatan itu menggambarkan seorang penakluk dari Afrika yang datang ke wilayah Yaman sekitar 525 masehi untuk menyebarkan agama Kristen. Dia mengatakan misi itu merupakan perintah Raja Aksum kepada para ksatria untuk menjelajahi area di sekitar Laut Merah yang sebagian besar merupakan Jazirah Arab.

Setelah menggali beberapa area di Yaman para arkeolog menyimpulkan, dahulunya Wilayah Zafar merupakan pusat perkumpulan dari suku-suku Arab. Areal ini mencakup lebih dari 124 ribu kilometer persegi dan pengaruhnya sampai ke Kota Makkah.

Yule mengklaim memang ada indikasi semua penemuan ini benar. Namun, dia menambahkan, masih banyak aspek yang harus ditemukan agar semuanya lebih jelas.

Pada zaman dahulu Zafar memiliki sejumlah besar komunitas Yahudi, Nasrani, dan penduduk Arab. Namun, kedamaian dari antara mereka jatuh ke dalam konflik sekitar abad kelima.

Dalam perhitungan jawa ada yang disebut Neptu yaitu lambang angka untuk perhitungan yang melambangkan Hari dan Pasaran. Berikut ini Daftar Neptu Ketentuan Hari dan Pasaran Jawa untuk melakukan perhitungan Jawa :


Ditulis Oleh : Baguse Narso Seni Jawa kuno,

Batik adalah salah satu warisan budaya leluhur, dan kita patut bangga karena banyak macam-macam motif yang terdapat di Indonesia. Dan sekarang ini batik memiliki berbagai corak yang sangat beragam, dan saat ini bukan hanya dibuat untuk kain saja melainkan juga berbagai barang hal seperti jaket, sepatu, sarung kering, bahkan boneka.

Dahulu batik dibuat dalam bahan berwarna  putih yang terbuat dari kapas (kain mori) . Sekarang ini semakin berkembang dengan bahan-bahan semacam sutera, poliester, rayon dan bahan sintetis lainnya. Motif batik sendiri dibentuk dengan cairan lilin yang menggunakan alat bernama canting untuk motif halus, atau kuas untuk motif berukuran besar, dengan demikian maka cairan lilin dapat meresap ke dalam serat sebuah kain. Setelah itu, kain yang sudah berhasil dilukis dengan lilin tadi, lalu dicelup dengan warna yang diinginkan oleh si pembuat, biasanya dimulai dengan warna-warna muda. Pencelupan kemudian dilakukan untuk motif lain dengan warna lebih tua atau gelap. Kemudian Setelah beberapa kali proses pewarnaan, kain yang telah dibatik dicelupkan ke dalam bahan kimia dengan tujuan melarutkan lilin.

Dan berikut adalah macam macam batik berdasarkan motif/corak:

Batik Kraton

Penjelasan :  awal mula dari semua jenis batik yang berkembang di Indonesia. Motifnya mengandung makna filosofi hidup. Batik-batik ini dibuat oleh para putri kraton dan juga pembatik-pembatik ahli yang hidup di lingkungan kraton. Pada dasarnya motifnya terlarang untuk digunakan oleh orang “biasa” seperti motif Batik Parang Barong, Batik Parang Rusak termasuk Batik Udan Liris, dan beberapa motif lainnya.

Batik Cuwiri
Penjelasan :   meruapakan motif batik yang menggunakan zat pewarna soga alam. Biasanya batik ini digunakan untuk semekan dan kemben, juga digunakan pada saat upacara mitoni. Motif batik ini kebanyakan menggunakan unsur meru dan gurda. Cuwiri sendiri memiliki arti kecil-kecil dan diharapkan untuk pemakainya pantas dan dihormati

Batik Pringgondani

Penjelasan :  Nama kesatriyan tempat tinggal Gatotkaca putera Werkudara. Motif ini biasanya ditampilkan dalam warna-warna gelap seperti biru indigo (biru nila) dan soga-coklat, serta penuh sulur-suluran kecil yang diselingi dengan naga.

Batik Sekar Jagad

Penjelasan :   salah satu motif batik khas Indonesia. Motif ini mengandung makna kecantikan dan keindahan sehingga orang lain yang melihat akan terpesona. Ada pula yang beranggapan bahwa motif Sekar Jagad sebenarnya berasal dari kata “kar jagad” yang diambil dari bahasa Jawa (Kar=peta; Jagad=dunia), sehingga motif ini juga melambangkan keragaman di seluruh dunia.

Batik Sida Luhur

Penjelasan :  Motif-motif berawalan sida (dibaca sido) merupakan golongan motif yang banyak dibuat para pembatik. Kata “sida” sendiri berarti jadi/menjadi/terlaksana. Dengan demikian, motif-motif berawalan “sida” mengandung harapan agar apa yang diinginkan bias tercapai. Motif Sida Luhur (dibaca Sido Luhur) bermakna harapan untuk mencapai kedudukan yang tinggi, dan dapat menjadi panutan masyarakat.

Batik Kawung

Penjelasan :  Motif Kawung berpola bulatan mirip buah Kawung (sejenis kelapa atau kadang juga dianggap sebagai buah kolang-kaling) yang ditata rapi secara geometris. Kadang, motif ini juga diinterpretasikan sebagai gambar bunga lotus (teratai) dengan empat lembar daun bunga yang merekah. Lotus adalah bunga yang melambangkan umur panjang dan kesucian. Biasanya motif-motif Kawung diberi nama berdasarkan besar-kecilnya bentuk bulat-lonjong yang terdapat dalam suatu motif tertentu. Misalnya : Kawung Picis adalah motif kawung yang tersusun oleh bentuk bulatan yang kecil. Picis adalah mata uang senilai sepuluh senyang bentuknya kecil. Sedangkan Kawung Bribil adalah motif-motif kawung yang tersusun oleh bentuk yang lebih besar daripada kawung Picis. Hal ini sesuai dengan nama bribil, mata uang yang bentuknya lebih besar daripada picis dan bernilai setengah sen. Sedangkan kawung yang bentuknya bulat-lonjong lebih besar daripada Kawung Bribil disebut Kawung Sen.

Batik Semen Rama

Penjelasan :  dimaknai sebagai penggambaran dari “kehidupan yang semi” (kehidupan yang berkembang atau makmur). Terdapat beberapa jenis ornamen pokok pada motif-motif semen. Yang pertama adalah ornamen yang berhubungan dengan daratan, seperti tumbuh-tumbuhan atau binatang berkaki empat. Kedua adalah ornament yang berhubungan dengan udara, seperti garuda, burung dan megamendung. Sedangkan yang ketiga adalah ornament yang berhubungan dengan laut atau air, seperti ular, ikan dan katak. Jenis ornament tersebut kemungkinan besar ada hubungannya dengan paham Triloka atau Tribawana. Paham tersebut adalah ajaran tentang adanya tiga dunia; dunia tengah tempat manusia hidup, dunia atas tempat para dewa dan para suci, serta dunia bawah tempat orang yang jalan hidupnya tidak benar/dipenuhi angkara murka. Selain makna tersebut motif Semen Rama (dibaca Semen Romo) sendiri seringkali dihubungkan dengan cerita Ramayana yang sarat dengan ajaran Hastha Brata atau ajaran keutamaan melalui delapan jalan. Ajaran ini adalah wejangan keutamaan dari Ramawijaya kepada Wibisana ketika dinobatkan menjadi raja Alengka. Jadi “Semen Romo” mengandung ajaran sifat-sifat utama yang seharusnya dimiliki oleh seorang raja atau pemimpin rakyat.

Batik Sida Asih

Penjelasan :  Motif-motif berawalan sida (dibaca sido) merupakan golongan motif yang banyak dibuat para pembatik. Kata “sida” sendiri berarti jadi/menjadi/terlaksana. Dengan demikian, motif-motif berawalan “sida” mengandung harapan agar apa yang diinginkan bias tercapai. Makna dari motif Sida Asih (dibaca Sido Asih) adalah harapan agar manusia mengembangkan rasa saling menyayangi dan mengasihi antar sesama.

Batik Tambal

Penjelasan :  Tambal memiliki arti tambal bermakna menambal atau memperbaiki hal-hal yang rusak. Dalam perjalanan hidupnya, manusia harus memperbaiki diri menuju kehidupan yang lebih baik, lahir maupun batin. Dahulu, kain batik bermotif tambal dipercaya bisa membantu kesembuhan orang yang sakit. Caranya adalah dengan menyelimuti orang sakit tersebut dengan kain motif tambal. Kepercayaan ini muncul karena orang yang sakit dianggap ada sesuatu “yang kurang”, sehingga untuk mengobatinya perlu “ditambal”.

Batik Sida Mukti

Penjelasan :   Sida Mukti meruapakan motif batik yang biasanya terbuat dari zat pewarna soga alam. Biasanya digunakan sebagai kain dalam upacara perkawinan. Unsur motif yang tekandung didalamnya adalah gurda. Motif-motif berawalan sida (dibaca sido) merupakan golongan motif yang banyak dibuat para pembatik. Kata “sida” sendiri berarti jadi/menjadi/terlaksana. Dengan demikian, motif-motif berawalan “sida” mengandung harapan agar apa yang diinginkan bias tercapai. Salah satunya adalah sida mukti, yang mengandung harapan untuk mencapai kebahagiaan lahir dan batin.

Batik Sudagaran

Penjelasan :  Merupakan motif larangan dari kalangan keraton yang membuat seniman dari kaum saudagar untuk menciptakan motif baru yang sesuai selera masyarakat saudagar. Mereka juga mengubah motif larangan sehingga motif tersebut dapat dipakai masyarakat umum. Desain batik Sudagaran umumnya terkesan “berani” dalam pemilihan bentuk, stilisasi atas benda-benda alam atau satwa, maupun kombinasi warna yang didominasi warna soga dan biru tua. Batik Sudagaran menyajikan kualitas dalam proses pengerjaan serta kerumitan dalam menyajikan ragam hias yang baru. Pencipta batik Sudagaran mengubah batik keraton dengan isen-isen yang rumit dan mengisinya dengan cecek (bintik) sehingga tercipta batik yang amat indah.

Batik Petani

Penjelasan :   merupakan batik yang dibuat sebagai selingan kegiatan ibu rumah tangga di rumah di kala tidak pergi ke sawah atau saat waktu senggang. Biasanya batik ini kasar dan kagok serta tidak halus. Motifnya turun temurun sesuai daerah masing-masing dan batik ini dikerjakan secara tidak profesional karena hanya sebagai sambilan. Untuk pewarnaan pun diikutkan ke saudagar.

source

Nestapa Lokananta, perusahaan rekaman pertama di Indonesia

Tak dapat dipungkiri, Solo memang terkenal sebagai kota bersejarah. Banyak bangunan-bangunan tua di kota ini yang menyimpan sejarah penting bagi Bangsa Indonesia. Salah satu bangunan penting yang mungkin tak banyak dikenal khalayak adalah perusahaan rekaman Lokananta. 

Bangunan yang berdiri di atas lahan seluas 21.500 meter persegi tersebut didirikan pada tanggal 29 Oktober 1956. Terletak di Jalan Ahmad Yani, Solo, Jawa Tengah, bangunan tua yang masih berdiri kokoh tersebut diresmikan oleh Menteri Penerangan RI, Soedibjo dengan nama Pabrik Piringan Hitam Lokananta, Jawatan Radio Kementerian Penerangan Republik Indonesia. Lokananta adalah perusahaan rekaman pertama di Indonesia. 

Menurut Kepala Cabang Perum Percetakan Negara Republik Indonesia (PNRI) Lokananta Surakarta, Pendi Heryadi, nama Lokananta diambil dari cerita pewayangan, yakni seperangkat gamelan dari Suralaya, sebuah istana dewa-dewi di kahyangan. Nama tersebut diusulkan oleh Direktur Jenderal RRI pada saat itu yakni R Maladi, yang kemudian disetujui Presiden Indonesia pertama Soekarno. 

Perusahaan rekaman Lokananta tersebut memiliki fungsi, merekam dan memproduksi atau menggandakan piringan hitam untuk bahan siaran 27 studio Radio Republik Indonesia (RRI) seluruh Indonesia sebagai transcription service (non komersial).

Pendi Heryadi mengungkapkan, pada awal berdiri tahun 1959, Lokananta hanya difungsikan untuk merekam dan memproduksi piringan hitam. Salah satu di antaranya, untuk kebutuhan bahan siaran bagi studio RRI (Radio Republik Indonesia) di seluruh negeri ini. Perusahaan rekaman Lokananta juga menjual rekaman dalam bentuk piringan hitam kepada masyarakat umum.

Produksi dalam bentuk piringan hitam tersebut terus berlanjut hingga tahun 1971 dengan memperluas bidang usahanya yakni tidak hanya dalam bentuk piringan hitam tetapi juga pita kaset suara (audio). Tetapi pada tahun 1972, perusahaan tidak lagi memproduksi piringan hitam, tetapi rekaman dalam bentuk kaset dan saat ini dalam bentuk compact disk (CD). 

“Dulunya hanya untuk rekaman dan produksi piringan hitam, tapi seiring perkembangan jaman, kami juga memproduksi rekaman dalam bentuk kaset dan compact disk (CD)” ujar Pendi kepada merdeka.com, 

Namun sayang, kini Lokananta berada dalam situasi sulit. Lokananta kesulitan keuangan.

Lokananta dulunya merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) milik Departemen Penerangan (Deppen). Melalui kebijakan pemerintah, pada tahun 2004 berubah menjadi Perum PNRI Cabang Surakarta. Meskipun perusahaan rekaman Lokananta ini memiliki nama besar pada jamannya dan menyimpan banyak dokumen sejarah, tetapi lambat laun mulai ditinggalkan. 

Produksi rekaman jauh merosot dibandingkan dengan pada jaman keemasannya dulu. Bahkan karena alasan tidak menghasilkan, studio rekaman berhenti beroperasi sekitar tahun 1999 hingga tahun 2009 dan tidak ada lagi anggaran dari pusat. Namun studio ini mulai digunakan lagi sejak tiga tahun terakhir.

“Semenjak tidak ada anggaran, kami kesulitan untuk melakukan operasional. Sejak diserahkan dari Deppen ke PNRI dari 18 karyawan yang bekerja disini, hanya saya yang berstatus pegawai PNRI, lainnya hanya karyawan lokal. Kami kesulitan untuk menggaji mereka,” lanjutnya. 

Menurut Pendi, per bulan biaya operasi yang dikeluarkan sekitar Rp 45 juta. Itu mencakup gaji pegawai, listrik, air, hingga biaya yang lain. Untuk menggaji mereka, pihaknya mengandalkan hasil penjualan rilis lagu-lagu lama dalam bentuk kaset dan CD, menyewakan kembali studio rekaman, hingga menyewakan properti bahkan mengalihfungsikan dapur menjadi lapangan futsal yang bisa disewa. Pendapatan Lokananta dari menggandakan CD dan kaset serta penyewaan ruang studio musik tersebut hanya Rp 30 juta Rp 35 juta.

Itu berarti setiap bulan defisit Rp 10 juta hingga belasan juta rupiah. Minimnya pemasukan tersebut, memaksa perusahaan untuk menggaji karyawannya sangat minim bahkan diantara mereka ada yang bergaji di bawah Upah Minimum Kota (UMK) Solo yang saat ini sekitar Rp 900.000.

Perusahaan rekaman tertua hidup dengan sewakan lapangan futsal

  Perusahaan rekaman tertua hidup dengan sewakan lapangan futsal

Berbagai cara dilakukan Lokananta, perusahaan rekaman tertua di Indonesia untuk terus bernapas. Salah satunya adalah menyewakan lahan untuk arena futsal. 

“Sebagai solusinya, sejak 2009 dengan seizin pimpinan kami manfaatkan banyaknya lahan kosong untuk dibangun sesuatu yang lebih berguna dan menarik minat. Salah satu di antaranya, kami mendirikan lapangan futsal dan menyewakan beberapa lahan kepada perusahaan sekitar. Bahkan banyak investor yang melirik tempat kosong di sini untuk dijadikan hotel berbintang'” ujar Kepala Cabang Perum Percetakan Negara Republik Indonesia (PNRI) Lokananta Surakarta, Pendi Heryadi kepada merdeka.com, Senin (10/12). 

Lokananta memang mempunyai lahan yang cukup luas, yakni 21.500 meter persegi. Dari jumlah tersebut baru sekitar 35 persen saja yang sudah dibuat bangunan. Itu pun berupa bangunan tua yang hingga kini belum pernah direnovasi besar-besaran.
Total ada tiga bangunan besar di sana, yakni gedung utama di bagian tengah, studio rekaman dan mes pimpinan di sebelah kanan. 

Kini gedung utama, selain digunakan untuk kegiatan administrasi, dimanfaatkan sebagai museum alat-alat musik. Sementara studio rekaman yang dilengkapi dengan akustik yang cukup baik,tidak hanya untuk merekam lagu-lagu saja tetapi juga gamelan, bahkan bahan untuk ujian bahasa untuk siswa sekolah.

Untuk tetap bertahan, selain memanfaatkan lahan kosong Lokananta juga berulangkali melakukan promosi dengan mendatangkan beberapa penyanyi dan band top tanah air untuk melakukan rekaman di sana. Belum lama ini penyanyi ternama Glenn Fredly juga melakukan rakaman disana. Glenn membuat CD penampilannya bertajuk Glenn Fredly and The Bakuucakar Live At Lokananta. Kegiatan merekam di studio itu kemudian dijual bebas agar para pendengarnya mau peduli akan keberadaan studio legendaris itu.

“Glenn dulu rekaman disini. Slain dia ada beberapa grup musik yang rekaman juga, diantaranya Sheila on 7, White Shoes, The Couples Company. Mereka kebanyakan terperangah dan memuji performa studio ini. Bahkan, mereka berjanji akan merekam lagu-lagu terbaru disini semua,” Pendi bangga.

Sewakan studio rekaman

Untuk tetap bertahan, sejak tiga tahun terakhir, Lokananta juga menyewakan kembali studio rekamannya. Berbeda dengan studio rekaman pada umumnya, studi rekaman tertua tersebut memiliki ruangan yang sangat luas yakni 15 x 30 meter persegi. Dilengkapi dengan peralatan akustik yang cukup bagus. Tidak hanya merekam lagu-lagu saja tetapi juga gamelan atau karawitan. Bahkan bisa digunakan untuk ujian bahasa untuk siswa sekolah.

Sound Enginer N Andi Kusumo mengatakan, siapapun bisa menggunakan studio ini, termasuk artis atau band-band terkenal. “Tetapi semuanya harus membawa peralatan sendiri, karena kami tidak menyediakannya. Alat – alat kita sudah kuno, tetapi masih bisa dioperasikan secara normal. Kami mempunyaii kapasitas 32 track, tapi yang bisa digunakan hanya 24 track saja,” jelasnya.

Memori rekaman Bung Karno, Gesang, dan Waldjinah di Lokananta

 Memori rekaman Bung Karno, Gesang, dan Waldjinah di Lokananta

Sebagai studio musik, teknologi yang diterapkan Lokananta ketika itu termasuk salah satu yang terbaik di Asia. Sejak berdiri Lokananta menyimpan sekitar 5.200 judul lagu dari berbagai genre musik seperti pop, jazz, tradisional, gamelan, lagu-lagu daerah, hingga rekaman humor dari grup lawak yang sebagian besar merupakan rekaman sekitar tahun 1950 hingga 1960. 

Banyak dokumen dan karya berharga yang tersimpan di sana. Diantaranya rekaman pidato Bung Karno pada 17 Agustus 1945 serta karya-karya masterpiece Gesang, Waldjinah, Buby Chen, Titiek Puspa, Bing Slamet, dan permainan gending dolanan/karawitan dalam bahasa jawa, gubahan dalang ternama Ki Narto Sabdo. Yang lebih membanggakan, lagu kebangsaan Indonesia Raya juga direkam di perusahaan rekaman tersebut.

“Studio Lokananta itu menyimpan banyak sejarah, menjadi pabrik piringan hitam pertama serta rekaman audio pertama di Indonesia. Menyimpan koleksi rekaman berharga, ada rekaman pidato Bung Karno pada 17 Agustus 1945, rekaman suara Gesang, Waldjinah, Buby Chen, Titiek Puspa, Bing Slamet serta lagu – lagu jawa karya dalang ternama Ki Narto Sabdo. Perusahaan ini mengalami masa keemasan pada tahun 1950-an, hingga 1970-an. Tetapi sejak tahun 1990-an, perusahaan ini terus mengalami kemerosotan, bahkan pada tahun 2001, Lokananta dilikuidasi,” ungkap Kepala Cabang Perum Percetakan Negara Republik Indonesia (PNRI) Lokananta Surakarta, Pendi Heryadi di Solo,

Kini Lokananta berada dalam nestapa. Lokananta dulunya merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) milik Departemen Penerangan (Deppen). Melalui kebijakan pemerintah, pada tahun 2004 berubah menjadi Perum PNRI Cabang Surakarta. Meskipun perusahaan rekaman Lokananta ini memiliki nama besar pada jamannya dan menyimpan banyak dokumen sejarah, tetapi lambat laun mulai ditinggalkan. 

Produksi rekaman jauh merosot dibandingkan dengan pada jaman keemasannya dulu. Bahkan karena alasan tidak menghasilkan, studio rekaman berhenti beroperasi sekitar tahun 1999 hingga tahun 2009 dan tidak ada lagi anggaran dari pusat. Namun studio ini mulai digunakan lagi sejak tiga tahun terakhir.

“Semenjak tidak ada anggaran, kami kesulitan untuk melakukan operasional. Sejak diserahkan dari Deppen ke PNRI dari 18 karyawan yang bekerja disini, hanya saya yang berstatus pegawai PNRI, lainnya hanya karyawan lokal. Kami kesulitan untuk menggaji mereka,” kata Pendi. 

REOG””PONOROGO””

Posted: 15 November 2012 in SENI DAN BUDAYA

Reog adalah salah satu kesenian budaya yang berasal dari Jawa Timur bagian barat-laut dan Ponorogo dianggap sebagai kota asal Reog yang sebenarnya. Gerbang kota Ponorogo dihiasi oleh sosok Warok dan Gemblak, dua sosok yang ikut tampil pada saat Reog dipertunjukkan. Reog adalah salah satu bukti budaya daerah di Indonesia yang masih sangat kental dengan hal-hal yang berbau mistik dan ilmu kebatinan yang kuat.


 Gemblakan

Selain segala persyaratan yang harus dijalani oleh para warok tersebut, selanjutnya muncul disebut dengan Gemblakan.Dahulu warok dikenal mempunyai banyak gemblak, yaitu lelaki belasan tahun usia 12-15 tahun berparas tampan dan terawat yang dipelihara sebagai kelangenan, yang kadang lebih disayangi ketimbang istri dan anaknya. Memelihara gemblak adalah tradisi yang telah berakar kuat pada komunitas seniman reog. Bagi seorang warok hal tersebut adalah hal yang wajar dan diterima masyarakat. Konon sesama warok pernah beradu kesaktian untuk memperebutkan seorang gemblak idaman dan selain itu kadang terjadi pinjam meminjam gemblak. 

Biaya yang dikeluarkan warok untuk seorang gemblak tidak murah. Bila gemblak bersekolah maka warok yang memeliharanya harus membiayai keperluan sekolahnya di samping memberinya makan dan tempat tinggal. Sedangkan jika gemblak tidak bersekolah maka setiap tahun warok memberikannya seekor sapi.Dalam tradisi yang dibawa oleh Ki Ageng Suryongalam, kesaktian bisa diperoleh bila seorang warok rela tidak berhubungan seksual dengan perempuan. Hal itu konon merupakan sebuah keharusan yang berasal dari perintah sang guru untuk memperoleh kesaktian. 

Kewajiban setiap warok untuk memelihara gemblak dipercaya agar bisa mempertahankan kesaktiannya. Selain itu ada kepercayaan kuat di kalangan warok, hubungan intim dengan perempuan biarpun dengan istri sendiri, bisa melunturkan seluruh kesaktian warok. Saling mengasihi, menyayangi dan berusaha menyenangkan merupakan ciri khas hubungan khusus antara gemblak dan waroknya. Praktik gemblakan di kalangan warok, diidentifikasi sebagai praktik homoseksual karena warok tak boleh mengumbar hawa nafsu kepada perempuan. 

Saat ini memang sudah terjadi pergeseran dalam hubungannya dengan gemblakan. Di masa sekarang gemblak sulit ditemui. Tradisi memelihara gemblak, kini semakin luntur. Gemblak yang dahulu biasa berperan sebagai penari jatilan (kuda lumping), kini perannya digantikan oleh remaja putri. Padahal dahulu kesenian ini ditampilkan tanpa seorang wanita pun.

 Sejarah Reog Ponorogo

Pada dasarnya ada lima versi cerita populer yang berkembang di masyarakat tentang asal-usul Reog dan Warok, namun salah satu cerita yang paling terkenal adalah cerita tentang pemberontakan Ki Ageng Kutu, seorang abdi kerajaan pada masa Bra Kertabumi, Raja Majapahit terakhir yang berkuasa pada abad ke-15. Ki Ageng Kutu murka akan pengaruh kuat dari pihak rekan Cina rajanya dalam pemerintahan dan prilaku raja yang korup, ia pun melihat bahwa kekuasaan Kerajaan Majapahit akan berakhir.

Ia lalu meninggalkan sang raja dan mendirikan perguruan dimana ia mengajar anak-anak muda seni bela diri, ilmu kekebalan diri, dan ilmu kesempurnaan dengan harapan bahwa anak-anak muda ini akan menjadi bibit dari kebangkitan lagi kerajaan Majapahit kelak. Sadar bahwa pasukannya terlalu kecil untuk melawan pasukan kerajaan maka pesan politis Ki Ageng Kutu disampaikan melalui pertunjukan seni Reog, yang merupakan “sindiran” kepada Raja Bra Kertabumi dan kerajaannya. Pagelaran Reog menjadi cara Ki Ageng Kutu membangun perlawanan masyarakat lokal menggunakan kepopuleran Reog.

Dalam pertunjukan Reog ditampilkan topeng berbentuk kepala singa yang dikenal sebagai “Singa Barong”, raja hutan, yang menjadi simbol untuk Kertabumi, dan diatasnya ditancapkan bulu-bulu merak hingga menyerupai kipas raksasa yang menyimbolkan pengaruh kuat para rekan Cinanya yang mengatur dari atas segala gerak-geriknya.

Jatilan, yang diperankan oleh kelompok penari gemblak yang menunggangi kuda-kudaan menjadi simbol kekuatan pasukan Kerajaan Majapahit yang menjadi perbandingan kontras dengan kekuatan warok, yang berada dibalik topeng badut merah yang menjadi simbol untuk Ki Ageng Kutu, sendirian dan menopang berat topeng singabarong yang mencapai lebih dari 50kg hanya dengan menggunakan giginya.

Populernya Reog Ki Ageng Kutu akhirnya menyebabkan Kertabumi mengambil tindakan dan menyerang perguruannya, pemberontakan oleh warok dengan cepat diatasi, dan perguruan dilarang untuk melanjutkan pengajaran akan warok. Namun murid-murid Ki Ageng kutu tetap melanjutkannya secara diam-diam. Walaupun begitu, kesenian Reognya sendiri masih diperbolehkan untuk dipentaskan karena sudah menjadi pertunjukan populer diantara masyarakat, namun jalan ceritanya memiliki alur baru dimana ditambahkan karakter-karakter dari cerita rakyat Ponorogo yaitu Kelono Sewondono, Dewi Songgolangit, and Sri Genthayu.

Versi resmi alur cerita Reog Ponorogo kini adalah cerita tentang Raja Ponorogo yang berniat melamar putri Kediri, Dewi Ragil Kuning, namun ditengah perjalanan ia dicegat oleh Raja Singabarong dari Kediri. Pasukan Raja Singabarong terdiri dari merak dan singa, sedangkan dari pihak Kerajaan Ponorogo Raja Kelono dan Wakilnya Bujanganom, dikawal oleh warok (pria berpakaian hitam-hitam dalam tariannya), dan warok ini memiliki ilmu hitam mematikan. Seluruh tariannya merupakan tarian perang antara Kerajaan Kediri dan Kerajaan Ponorogo, dan mengadu ilmu hitam antara keduanya, para penari dalam keadaan ‘kerasukan’ saat mementaskan tariannya.

Hingga kini masyarakat Ponorogo hanya mengikuti apa yang menjadi warisan leluhur mereka sebagai pewarisan budaya yang sangat kaya. Dalam pengalamannya Seni Reog merupakan cipta kreasi manusia yang terbentuk adanya aliran kepercayaan yang ada secara turun temurun dan terjaga. Upacaranya pun menggunakan syarat-syarat yang tidak mudah bagi orang awam untuk memenuhinya tanpa adanya garis keturunan yang jelas. mereka menganut garis keturunan Parental dan hukum adat yang masih berlaku.

 Syarat menjadi Warok

Warok harus menjalankan laku. “Syaratnya, tubuh harus bersih karena akan diisi. Warok harus bisa mengekang segala hawa nafsu, menahan lapar dan haus, juga tidak bersentuhan dengan perempuan. Persyaratan lainnya, seorang calon warok harus menyediakan seekor ayam jago, kain mori 2,5 meter, tikar pandan, dan selamatan bersama. Setelah itu, calon warok akan ditempa dengan berbagai ilmu kanuragan dan ilmu kebatinan. Setelah dinyatakan menguasai ilmu tersebut, ia lalu dikukuhkan menjadi seorang warok sejati. Ia memperoleh senjata yang disebut kolor wasiat, serupa tali panjang berwarna putih, senjata andalan para warok. 

Warok sejati pada masa sekarang hanya menjadi legenda yang tersisa. Beberapa kelompok warok di daerah-daerah tertentu masih ada yang memegang teguh budaya mereka dan masih dipandang sebagai seseorang yang dituakan dan disegani, bahkan kadang para pejabat pemerintah selalu meminta restunya.

Warok

Warok sampai sekarang masih mendapat tempat sebagai sesepuh di masyarakatnya. Kedekatannya dengan dunia spiritual sering membuat seorang warok dimintai nasehatnya atas sebagai pegangan spiritual ataupun ketentraman hidup. Seorang warok konon harus menguasai apa yang disebut Reh Kamusankan Sejati, jalan kemanusiaan yang sejati.   

Warok adalah pasukan yang bersandar pada kebenaran dalam pertarungan antara kebaikan dan kejahatan dalam cerita kesenian reog. Warok Tua adalah tokoh pengayom, sedangkan Warok Muda adalah warok yang masih dalam taraf menuntut ilmu. Hingga saat ini, Warok dipersepsikan sebagai tokoh yang pemerannya harus memiliki kekuatan gaib tertentu. Bahkan tidak sedikit cerita buruk seputar kehidupan warok. Warok adalah sosok dengan stereotip: memakai kolor, berpakaian hitam-hitam, memiliki kesaktian dan gemblakan.Menurut sesepuh warok, Kasni Gunopati atau yang dikenal Mbah Wo Kucing, warok bukanlah seorang yang takabur karena kekuatan yang dimilikinya. 

Warok adalah orang yang mempunyai tekad suci, siap memberikan tuntunan dan perlindungan tanpa pamrih. “Warok itu berasal dari kata wewarah. Warok adalah wong kang sugih wewarah. Artinya, seseorang menjadi warok karena mampu memberi petunjuk atau pengajaran kepada orang lain tentang hidup yang baik”.“Warok iku wong kang wus purna saka sakabehing laku, lan wus menep ing rasa” (Warok adalah orang yang sudah sempurna dalam laku hidupnya, dan sampai pada pengendapan batin).

Reog di masa sekarang

Seniman Reog Ponorogo lulusan sekolah-sekolah seni turut memberikan sentuhan pada perkembangan tari reog ponorogo. Mahasiswa sekolah seni memperkenalkan estetika seni panggung dan gerakan-gerakan koreografis, maka jadilah reog ponorogo dengan format festival seperti sekarang. Ada alur cerita, urut-urutan siapa yang tampil lebih dulu, yaitu Warok, kemudian jatilan, Bujangganong, Klana Sewandana, barulah Barongan atau Dadak Merak di bagian akhir. Saat salah satu unsur tersebut beraksi, unsur lain ikut bergerak atau menari meski tidak menonjol. 

Beberapa tahun yang lalu Yayasan Reog Ponorogo memprakarsai berdirinya Paguyuban Reog Nusantara yang anggotanya terdiri atas grup-grup reog dari berbagai daerah di Indonesia yang pernah ambil bagian dalam Festival Reog Nasional. Reog ponorogo menjadi sangat terbuka akan pengayaan dan perubahan ragam geraknya

source

Alkisah, spesies manusia pertama kali muncul di Afrika dan kemudian menyebar ke seluruh penjuru Bumi. Dalam penyebarannya, proses evolusi berlangsung menyesuaikan dengan tempat tinggal serta gaya hidup.

Ada beragam fosil nenek moyang manusia alias manusia purba yang ditemukan. Namun, banyak penemuan tak disertai dengan gambaran wajah manusia purba yang sebenarnya. Alhasil, manusia saat ini pun kesulitan membayangkan leluhurnya.

Sebuah pameran di Dresden, Jerman, akhir-akhir ini berupaya menyajikan wajah manusia purba yang lebih realistis. Ilmuwan yang ikut terlibat menggunakan teknik digitalisasi komputer untuk menggambarkan 27 wajah manusia purba yang direkonstruksi berdasarkan fosil yang ditemukan.

Salah satu yang digambarkan adalah Sahelanthropus tchadensis. Spesies itu adalah spesies manusia paling purba, hidup 7 juta tahun lalu, sebelum manusia dan simpanse terpisah secara genetik berdasarkan teori evolusi.

Spesies lain adalah Homo rudolfensis yang hidup 2 juta tahun lalu. Berdasarkan hasil rekonstruksi, spesies ini memiliki rahang lebar, hidung pesek, mata relatif sempit, serta dahi kecil.

Tak ketinggalan pula Homo erectus yang hidup 1 juta tahun lalu. Satu teori menyebutkan bahwa spesies ini berasal dari Afrika, lalu bermigrasi ke India, China, dan Jawa. Teori lain menyebutkan bahwa spesies ini berasal dari Asia dan pindah ke Afrika.

Ada pula Homo neanderthalensis yang diperkirakan merupakan kerabat terdekat Homo sapiens, manusia modern. Jenis ini hidup sekitar 60.000 tahun lalu. Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa manusia modern pernah kawin dengan spesies ini.

Ada banyak versi tentang asal-usul manusia. Teori “Out of Africa” adalah yang paling kuat, tetapi banyak pula tandingannya. Pameran ini berupaya memperkenalkan lokasi penggalian di Afrika dan hasil penelitian para arkeolog dengan cara yang lebih menarik.

Sumber :Daily Mail

Oleh M. Hari Atmoko

Tembang Jawa langgam dandanggula dilantunkan sekelompok seni musik tradisional “Pitutur” dari sekitar Candi Borobudur, mengiring prosesi ritual di tempat persemadian pemahat batu Muntilan, Raden Tumenggung Khamid Djajaprana (73).

“’Angedahken mring dosa-dosa sayekti. Wong kang ceget ibu watekira. Adoh marang bilahine. Mangkono tiyangipun. Wong kang amrih harganing diri. Ati pangolahira. Batin ugeri ing lahir sartaning badra. Iku aran kelakuan ingkang becik. Merganing miring utama’,” begitu syair tembang itu dilantungkan Dirman, anggota grup musik tradisional “Sabda Jati” Dusun Gleyoran, Desa Sambeng, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Kira-kira, tembang itu bertutur tentang pentingnya manusia selalu mencari jalan keutamaan dalam kehidupannya.

Tabuhan alat musik seperti terbang, jedor, dan kendang mengiring lantunan tembang-tembang berikutnya oleh para anggota lainnya yang dipandu oleh dua orang, Suyoto dan Pandul, dengan masing-masing memegang Al Quran.

Suasana terkesan merasuk takzim. Djajaprana didampingi seorang kakaknya yang juga pemahat batu, Kasrin Hendroprayono (74) dan seniman Padepokan Gunung Tidar yang juga penyair Kota Magelang Es Wibowo, duduk bersila di satu ruang tertinggi serta paling ujung, untuk tempat semadi. Mereka masing-masing mengenakan tutup kepala iket dan belangkon.

Di depan mereka telah diletakkan di altar batu, berupa sesaji seperti tumpeng dengan urap dan telur di atas tampah, jenang merah dan putih di atas piring, lilin di atas cobek kecil, dua tempayan berisi air kembang mawar merah dan putih, tiga buah degan, ingkung di atas piring porselin, dan berbagai buah-buahan, serta palawija.

Selain itu, taburan bunga mawar di atas kain warna biru dan hitam membentang di tangga menuju tempat semadi tersebut, serta beberapa instalasi janur kuning diletakkan di beberapa tempat, turut mendukung tercipta suasana takzim rumah tinggal cukup besar dengan berdinding tebal milik Djajaprana.

Djajaprana adalah anak terakhir di antara enam bersaudara, keturunan seorang pemahat batu yang turut bekerja saat restorasi pertama Candi Borobudur dipimpin Theodor van Erp (1907-1911), Salim Djajapawira. Salim yang beristri Nasimah itu meninggal dunia pada 1979 dalam usia 93 tahun, sedangkan Nasimah meninggal pada 1990 dalam usia 85 tahun.

Puluhan orang menjalani prosesi itu sebagai rangkaian “Ritual Memetri Selo Redi Merapi”, tanda telah selesai pembuatan patung raksasa homo erectus oleh 10 pemahat batu Sanggar Seni Pahat “Sanjaya” di Dusun Prumpung Sidoarjo, Desa Taman Agung, Kecamatan Muntilan pimpinan Djajaprana. Rangkaian prosesi itu digarap oleh komunitas Warung Info Jagad Cleguk (WIJC) Borobudur pimpinan Sucoro.

Mereka kemudian berjalan kaki sejauh sekitar 100 meter menuju bengkel kerja para pemahat tersebut di tepi Jalan Raya Magelang-Yogyakarta, tak jauh dari Jembatan Prumpung.

Jembatan itu melintang di atas alur Sungai Pabelan. Aliran air kali tersebut berhulu di pertemuan muara dua sungai yakni Tringsing dan Apu, sedangkan dua sungai itu berhulu di Gunung Merapi.

Patung homo erectus (manusia berdiri tegak) setinggi 3,40 meter tampak gagah dan kukuh di halaman depan satu bagian sanggar kerja para pemahat pimpinan Djajaprana.

Kepala Balai Konservasi Borobudur Marsis Sutopo juga tampak hadir pada kesempatan itu mewakili Kepala Balai Penelitian Situs Manusia Purba Sangiran Harry Widianto.

Rencananya, pada pertengahan November 2012, patung homo erectus itu  diusung dari tepi Kali Pabelan tersebut menuju Museum Manusia Purba Sangiran, kaki Gunung Lawu, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Museum di kawasan situs warisan dunia itu di bawah pengelolaan Balai Penelitian Situs Manusia Purba Sangiran.

“Kalau saat kami memulai membuat patung, kami mengucap bismilah, sekarang kami mengucap alhamdulilah karena telah selesai. Dan mohon doa agar perjalanan patung ini menuju Sangiran bisa lancar dan selamat,” kata Djajaprana.

Batu  Menyerupai Manusia

Patung homo erectus dengan batu utuh setinggi empat meter yang ditemukan Djajaprana di lereng barat Gunung Merapi, di Desa Keningar, Kecamatan Dukun, Magelang tersebut, dikerjakan secara maraton, siang dan malam, sejak 1 Oktober 2012.

Ia menyebut batu itu bukan kategori batu hitam atau putih, akan tetapi telah menyerupai manusia. Djajaprana yang sejak 1955 menjadi pemahat batu melalui kemahiran secara turun temurun itu, riset selama satu minggu untuk menemukan karakter dasar homo erectus yang kemudian dituangkan secara persis dalam wujud patung tersebut.

“Menggali gambar, mencari inspirasi termasuk melalui meditasi, lalu menuangkan ke batu. Homo erectus, nenek moyang kita itu karakternya jujur, tangguh, dan mau bekerja keras,” kata Djajaprana yang memiliki dua istri, Wagiyem (almarhum) dan Soiyah (66) dengan 15 anak, 33 cucu, dan dua buyut.

Ia mengaku secara spontan tergugah ketika ditemui Kepala Balai Penelitian Situs Manusia Purba Sangiran yang juga arkeolog senior Harry Widianto pada akhir September 2012. Harry memintanya membuat patung homo erectus untuk ditempatkan di Museum Manusia Purba Sangiran.

Djajaprana pernah mengajarkan kemampuan pahat batu kepada 16 warga di satu kampung di Sangiran, selama tiga hari pada 1978.

“Saya merasa ’gemregah’ (tergugah, red.) ketika diminta membuat patung ini. Ini penghormatan terhadap leluhur. Ketika ke Sangiran beberapa waktu lalu, masih ada orang di sana yang ingat saya,” katanya.

Para peserta prosesi ritual itu pun kemudian meletakkan aneka sesaji di bawah patung homo erectus yang juga telah dihiasi berbagai dedaunan warna hijau. Kasrin dan Es Wibowo memercikkan air kembang mawar di patung tersebut, sedangkan Marsis Sutopo memecahkan telur di patung itu sebagai tanda prosesi ritual.

Bunyi tetabuhan musik “Pitutur” oleh grup kesenian yang dipimpin Suyoto itu tiada berhenti. Mereka melantunkan syair tembang dengan menyebut berulang kali nama Allah SWTdan Nabi Muhammad SAW.

Kisah sejarah penting bagi peradaban dunia tentang manusia purba itu dikumandangkan oleh Es Wibowo melalui tiga bait puisi karyanya bertajuk “Homo Erectus”.

“Sangiran Tahun 1891 pagi beku. Masih terbayang dalam ingatan. Eugene Dubois menemukan tengkorak purbaku. Tengkorak yang kemudian hari. Dijumputi fosilnya dari tanah tandus. Dan dinubuatkan kebenaran atasku Homo Erectus. 121 tahun kemudian di Prumpung. Djajaprana dengan batu Merapi. Memahat kematianku. Dalam wujud patung mata murung. Untukmu peradaban. Disujudkan martabatku cinta agung,” begitu bait pertama dan kedua puisi itu.

“Sekarang aku bangkit dari tidur. Menatap kubah Merapi. Membokongi stupa Borobudur. Dan umat berbudi luhur. Berebut bunga menyawurkan duka ke tubuhku. Tetapi tubuhku mengeras jadi batu. Ditinggalkan riwayat manusia purba dileburnya. Ditanggalkansejarah Homo Erectus dikuburnya,” demikian bait ketiga puisi yang dibacakan sang penulisnya itu.

Pada kesempatan itu Marsis memintakan izin Harry yang tidak hadir pada prosesi itu karena sedang berduka atas kematian orang tuanya di Kota Magelang.

“Arca ini ’ngedap-edapi’ (spektakuler). Djajaprana dengan penuh dedikasi membuat arca ini. Ini akan dipasang di Museum Sangiran. Museum Sangiran sebagai situs paling lengkap di dunia tentang manusia purba yang telah ditetapkan UNESCO (Badan PBB untuk pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan) sebagai warisan peradaban dunia,” kata Marsis Sutopo yang juga arkeolog itu.

Pada kesempatan itu ia antara lain menjelaskan secara singkat tentang evolusi manusia, binatang, fosil manusia purba homo erectus, dan berbagai peralatan batu yang banyak ditemukan di Situs Sangiran. Fosil terkait homo erectus yang berumur antara 2-2,5 juta tahun di Sangiran ditemukan Marie Eugene Francois Thomas Dubois pada 1891.

Eugene Dubois (1858-1940) adalah dokter anatomi berkebangsaan Belanda yang datang ke Jawa pada 1887. Waktu senggangnya bekerja di satu rumah sakit, dimanfaatkan untuk menyusuri tepian kanan dan kiri Sungai Bengawan Solo, sambil meneliti lokasi yang berpotensi sebagai pendaman tulang-tulang manusia purba.

Pada 1890 di Sangiran, Eugene Dubois yang terobsesi dengan teori evolusi Darwin (Charles Darwin 1809-1882) itu menemukan sepotong geraham  manusia purba, pada 1891 di Trinil (Solo) menemukan tengkorak, dan pada 1892 menemukan tulang kaki. Pada 1894, ia menyusun laporan hasil penelitian tentang manusia kera yang berdiri tegak atau manusia Jawa itu yang kemudian disebut homo erectus.

“Jangan bayangkan homo erectus masa itu setinggi dan sebesar patung ini, paling tidak seperti kita-kita ini,” katanya.

Marsis menyebut adanya salah kaprah bahwa seakan-akan manusia berasal dari kera. Padahal, antara manusia dengan kera mempunyai sejarah dan “induk” sendiri-sendiri.

Mudah-mudahan patung homo erectus terbuat dari batu besar Gunung Merapi,  karya pemahat yang tinggal tak jauh dari Candi Borobudur itu, menghidupkan Museum Sangiran di situs manusia purbakala.


“Sehingga namanya makin hidup mendunia,”

Sumber :
ANT

Candi Borobudur resmi masuk Guinness World Records

Candi Borobudur secara resmi dinyatakan sebagai Candi Buddha Terbesar di Dunia oleh Guinness World Records yang berpusat di London. Peresmian itu ditandai dengan penyerahan piagam penghargaan dari pihak Guinness kepada pengelola PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko (PT TWCBPRB).

Penyerahan itu berlangsung di Pendopo Hotel Manohara, Kompleks Taman Wisata Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jateng

Piagam penghargaan diserahkan oleh Client Servis Director Guinnes World Records, Lucia Sinigagliesi kepada Direktur Utama PT TWCBPRB, Purnomo Siswoprasetjo. Disaksikan di antaranya oleh Direktur Pemasaran dan Pengembangan Usaha PT TWCRPBR, Agus Canny dan Kepala Unit PT Taman Wisata Candi Borobudur (PT TWCB) Bambang Irianto beserta staf.

Lucia Sinigagliesi, usai menyerahkan piagam, menyatakan Candi Borobudur dibangun menggunakan 60 ribu meter kubik struktur bebatuan setinggi 34,5 meter (113 kaki) dan kerangka dasarnya berukuran 123 x 123 meter.

Candi ini yang terbesar di dunia. Banyak referensi buku yang juga menyebut demikian. Kami juga telah melakukan penelitian kurang lebih selama satu setengah tahun. Unesco pun mengakuinya. Dilihat dari ukurannya, Candi Borobudur sangat impresif. Karena itu, kami memberikan penghargaan ini

Sementara penghargaan ini mampu berdampak lebih besar, meningkatkan angka kunjungan obyek wisata Borobudur. Juga diharapkan akan muncul multiplayer effect dan peningkatan kegiatan perekonomian masyarakat di sekitar Candi Borobudur.

Miss Lucia hadir di panggung terbuka Sendratari Ramayana di Prambanan, Sleman, DIY, untuk menyaksikan pemecahan rekor dunia pagelaran tari tersebut sebagai The Longest On-Going dan The Largest Ramayana Ballet Dance in the World. Sekaligus, beliau akan menyerahkan piagam penghargaan yang menyatakan Sendratari Ramayana telah tercatat juga dalam Guinness World Records sebagai tari kolosal dan terlama dalam pementasannya