Hitam Putih Lukisan Picasso

Posted: 7 Oktober 2012 in SENI DAN BUDAYA
Pelukis Pablo Picasso yang dikenal dengan Periode Biru dan Merah Muda, dan Kubisme, ternyata juga menggunakan warna hitam dan putih dalam karya-karyanya yang menghiasi ruang pamer Guggenheim Museum, New York, 

Pameran bertajuk “Picasso Black and White” (Picasso Hitam dan Putih) yang akan berlangsung hingga 23 Januari tahun depan itu meliputi 118 lukisan, patung dan lukisan pada kertas dari tahun 1904 sampai 1971 yang fokus pada eksplorasi Picasso dengan kedua warna itu.

“Ini akan menjadi pameran pertama yang membahas penggunaan warna hitam dan putih secara berlanjut selama karirnya. Oleh karena itu kami pikir pameran ini adalah sebuah terobosan,” kata Ricahrd Armstrong, Direktur Solomon R. Guggenheim Museum and Foundation.

“Kami pikir ini menawarkan wawasan baru ke dalam karakter kreatifnya,” tambah Armstrong, seperti yang diberitakan Reuters.

Lukisan dalam pameran itu disusun secara kronologis mulai dari “La Repasseuse”–sebuah lukisan minyak di atas kanvas suram tentang seorang perempuan yang sedang menyeterika bertahun 1904– hingga “The Kiss,” lukisan abu-abu-hitam yang diselesaikan beberapa dekade kemudian.

Pameran itu juga menampilkan karya-karya Picasso yang belum pernah diperlihatkan ke publik dan lebih dari 30 karya yang baru pertama kali dipamerkan di Amerika Serikat.

Kurator Carmen Gimenez mengatakan penggunaan warna yang minim dalam karya Picasso menunjukkan fokusnya pada garis, bentuk, gambar, dan suasana. “The Kitchen” (1948) adalah salah satu lukisan yang memuat semua itu; sudut, lingkaran, lengkungan, dan variasi warna abu-abu.

“Ketertarikannya ada pada gambar dan garis,” jelas Gimenez.

Bahkan dalam Periode Biru dan Merah Muda, kata Gimenez, putih dan abu-abu menjadi motif yang berulang. Minimnya penggunaan warna, lanjutnya, membuat Picasso untuk mengatur lukisan rumit seperti mahakarya hitam-putihnya “The Milliner’s Workshop” yang dipinjam dari Centre Pompidou di Paris.

“Hitam dan putih cenderung digunakan dalam komposisi yang ambisius dan rumit,” kata Gimenez.

Bahkan pada Periode Biru dan Merah Muda, kata Gimenez, hitam dan abu-abu merupakan motif yang berulang.

Sedikit warna, ia menambahkan, membuat Picasso bisa mengelola lukisan-lukisan rumit seperti mahakarya lukisan hitam putihnya, “The Milliner’s Workshop,” yang dipinjamkan untuk pameran dari di Centre Pompidou di Paris.

“The Charnel House,” serakan mayat dengan dengan kualitas primitif yang dilaporkan menginspirasi fotografi perang di surat kabar, adalah karya utama lain yang dipamerkan bersama dengan “The Maids of Honor,” yang terbesar dari 44 variasi Diego Velazquez’s “Las Meninas” yang dilukis Picasso di California.

Ia menambahkan, warna monokrom Picasso berakar dari lukisan di gua zaman Paleolitikum dan digunakan untuk mengeksplorasi karya pelukis besar Spanyol, seperti Velazquez, El Greco, dan Francisco de Goya, yang juga menggunakan hitam dan abu-abu.

“Kelabu adalah bagian esensial dari tradisi klasik,” katanya.

 

Sumber : ANT

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s